🏛️ Sejarah & Budaya Jogja

Sejarah Keraton Yogyakarta: Dari Perjanjian Giyanti hingga Menjadi Istimewa

✍️ 📅 14 May 2026 ⏱️ 2 menit baca 👁️ 7 dibaca

Awal dari Sebuah Kerajaan Baru

Pada 13 Februari 1755, Perjanjian Giyanti membagi Kerajaan Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pangeran Mangkubumi bergelar Sultan Hamengkubuwono I mendirikan keraton baru di antara Sungai Winongo dan Sungai Code, di bawah bayang-bayang Gunung Merapi.

Pembangunan Keraton — Kosmos dalam Bata

Sultan HB I merancang sebuah konsep kosmologi Jawa dalam bentuk arsitektur. Keraton dibangun dengan sumbu imajiner dari Gunung Merapi di utara hingga Pantai Parangtritis di selatan — representasi hubungan antara langit, manusia, dan laut dalam kosmologi Jawa.

Era Kolonial — Bertahan dengan Cerdas

Sultan-sultan Yogyakarta memilih strategi bertahan melalui budaya, bukan konfrontasi militer yang tidak menguntungkan. Ini menghasilkan masa keemasan budaya Jawa: perkembangan wayang, gamelan, batik, dan tari-tarian keraton.

Yogyakarta dan Kemerdekaan Indonesia

Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan Yogyakarta bagian dari Republik Indonesia dan menyerahkan 6 juta gulden kekayaan keraton untuk mendanai pemerintahan republik yang baru berdiri. Yogyakarta menjadi ibukota RI dari 1946–1948.

Yogyakarta adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang gubernurnya adalah raja dari dinasti yang telah memerintah lebih dari 270 tahun.

Keraton Hari Ini

Kompleks 13.000 meter persegi ini masih menjadi tempat tinggal aktif keluarga kerajaan dan pusat pelestarian budaya Jawa. Setiap Kamis malam dan Minggu pagi ada pertunjukan wayang dan gamelan terbuka untuk publik.

PENA Konsultan bangga beroperasi dari Yogyakarta. Kunjungi kami dan Yogyakarta suatu hari.

Siap Tingkatkan Karier dengan Sertifikasi Resmi?

PENA Konsultan menyediakan 40+ program pelatihan bersertifikasi BNSP & KEMNAKER RI. Online & tatap muka, instruktur praktisi lapangan aktif.

💬 Konsultasi Gratis via WhatsApp
Bagikan: